Pureit Solusi Praktis dan Sehat Air Minum Layak Konsumsi

   Air sangat penting untuk kehidupan kita, khususnya air minum. Untuk proses pernapasan kita saja membutuhkan setidaknya 1,7 liter air setiap harinya. 


   Setiap bangun tidur aku selalu membiasakan diri minum air putih. Penelitian menunjukkan, minum air saat perut kosong di pagi hari dapat meningkatkan laju metabolisme sepanjang hari. Air juga membuat rasa kenyang sehingga dapat menunda lapar. 

Selain itu masih banyak sekali manfaat minum air putih diantaranya yaitu : 
  • Membersihkan tubuh dari racun
  • Menyembuhkan penyakit
  • Membuat kulit lebih sehat dan segar
  • Mengoptimalkan fungsi otak
  • Membantu menurunkan berat badan secara perlahan karena membantu mengurangi kalori yang biasanya berasal dari asupan minuman berkalori tinggi 

   Orang bisa menahan lapar berhari hari tetapi ga bisa nahan haus. Kalau kita merasa haus tandanya tubuh kita kurang cairan. Nah jika kita kurang minum air putih maka tubuh kita bisa kena dehidrasi dan membuat ginjal kita bekerja ekstra keras. Namun, untuk menjaga kesehatan organ ginjal kita ga cukup hanya dengan banyak minum air putih saja tetapi perlu kita jaga juga kebersihan air yang kita minum. 

   Awalnya, sumber air di rumahku  berasal dari pompa air manual yang kemudian ditaruh ke dalam bak mandi dan gentong-gentong dari tanah liat (istilah bahasa jawanya genuk). Untuk kebutuhan memasak dan air minum biasanya aku merebus dulu air yang sudah diendapkan tersebut hingga mendidih kemudian ditaruh di dalam kendi/ teko. Tetapi karena daerah tempat tinggalku di Blora tanahnya banyak mengandung kapur, sehingga air hasil rebusan tadi berkapur. Akibatnya panci untuk memasak air tersebut jadi berkerak-kerak. Yang pasti itu sangat tidak baik untuk kesehatan terutama ginjal. 

   Lumayan capek juga kalau mau ambil air harus memompa dulu. Kadang airnya juga tidak keluar di musim kemarau. Sehingga aku memutuskan untuk membuat sumur bor. Tapi lihatlah air dari sumur bor dirumahku seperti ini butek dan bercampur banyak lumpur. Tentu saja aku tak tega untuk merebusnya lagi karena pasti air ini tidak layak untuk diminum. 


   Kemudian, untuk kebutuhan air minum aku beli saja air isi ulang yang banyak dijual di toko-toko dengan harga per galonnya sekarang Rp.4500,-. Pikirku lebih praktis karena ga perlu merebus air lagi seperti dulu dan airnya lebih bersih. 

   Rupanya sekarang banyak merk air isi ulang yang beredar di pasaran juga ya. Ada juga tetanggaku yang kena sakit batu ginjal ga mau beli yang air isi ulang itu tetapi beli air galon yang asli dengan harga yang lebih mahal. Hal ini membuatku penasaran, apakah air isi ulang itu masih kurang bersih? Bagaimanakah ciri-ciri air bersih itu? 

   Akupun banyak browsing di internet dan membaca artikel-artikel yang di posting di blog dan kutemukan fakta bahwa : 


1. Tidak berwarna/ jernih 
2. Tidak berbau
3. Tidak berasa/ alami
4. Tidak mengandung bakteri patogen E.Coli
5. Derajat PH-nya diantara: 6,5 - 8,5 (netral)  

    Aku jadi ingin minum air dengan nyaman tanpa was-was akan bahaya mengonsumsi air minum yang tidak layak dikonsumsi. 

   Hingga kemudian melalui sebuah iklan TV, aku menemukan solusi praktis untuk air minum layak konsumsi. Ya, Pure It! Water Purifier atau pemurni air berteknologi canggih dengan 4 tahap pemurnian air “Teknologi Germkill” untuk menghasilkan air yang benar-benar aman terlindungi sepenuhnya dari bakteri dan virus. 

1. Saringan serat mikro → menghilangkan kotoran 
2. Filter karbon aktif → menghilangkan parasit dan pestisida berbahaya 
3. Prosesor pembunuh kuman →Dengan 'programmed disinfection technology' menghilangkan bakteri dan virus berbahaya yang tidak terlihat. 
4. Penjernih → Membuat air jernih, tidak berbau dengan rasa yang alami 


   Dengan PureIt kita tidak perlu memasak air lagi, tidak perlu menggunakan gallon karena air langsung diambil dari air keran, tanpa gas, tanpa listrik (kecuali untuk Pure It Marvella), dan dapat menghilangkan bakteri, virus dan parasit. 

   Cara menggunakannya pun sangat mudah yaitu hanya dengan menuangkan air tanah/ PAM mentah yang biasa kita masak untuk diminum kedalam Pureit. 

   Pureit adalah solusi mudah, praktis dan aman dari kuman berbahaya dengan harga yang terjangkau :
  •  Rp.600.000,- untuk Pure It Classic Putih Marron
  •  Rp. 650.000,- untuk Pure It Classic Putih Biru 
  •  Rp. 2.500.000, - untuk Pure It Marvella. 
Tak hanya itu saja Pureit memiliki banyak sekali keuntungannya :
  • Dibandingkan kalau harus merebus air : Pureit jauh lebih praktis, mampu menghilangkan polutan dalam air seperti pestisida, karat besi, yang tak dapat dihilangkan hanya dengan memasak air, hemat gas, dan harganya terjangkau.
  • Dibanding beli gallon bermerk, Pureit lebih menghemat uang : Harga gallon Rp.10.000 untuk 19 liter, Harga Germkill kit Rp. 150.000 untuk 1500 liter. Jika setiap bulan menghabiskan 8 galon maka penghematan dalam 1 th Rp.842.400,-, 3 th : Rp.2.527.200,-, dan 5 th : Rp. 4.212.000.- 

Pure It Classic (warna putih biru dan putih Marun) 
Tidak memerlukan sambungan ke keran. Sangat praktis digunakan. Tinggal tuangkan air tanah/PAM mentah yang biasa dimasak untuk minum ke dalam Pureit. Kapasitas wadah atas 9 liter dan wadah transparan 9 liter. 

Pure It Marvella 

dengan 2 jaminan perlindungan : 
Perlindungan 1 – Pureit Germkill Life Indicator Indikator unik yang akan memberitahukan Anda beberapa hari sebelumnya kapan perlu mengganti 'Germkill Kit’ 
Perlindungan 2 – Mekanisme Penghentian Otomatis 
Jika ‘Germkill Kit’ tidak diganti pada waktunya, Pureit secara otomatis akan menghentikan aliran air sampai penggantian dilakukan. Mekanisme Penghentian Otomatis Pureit akan menghentikan air sehingga air akan meluap dari Germkill Life Indicator. Hal ini akan menjamin anggota keluarga Anda akan selalu meminum air yang aman. 
Pureit bekerja dengan Germkill Kit (Perangkat Pembunuh Kuman) yang tahan lama dan dapat diganti. Komponen 2,3,4 harus diganti secara bersamaan setelah memurnikan sekitar 1500 liter air. Atau setara dengan 80 galon, dalam pemakaian normal tahan sekitar 6 -8 bulan. Ketiga komponen ini tersedia dalam sebuah kemasan 'Germkill Kit'. 


Marvella juga dilengkapi dengan berbagai filtur unik: 
  1. Advance Alert System Memberi petunjuk 150 liter sebelum GKK habis (estimasi sekitar 15 hari untuk pemakaian 5 orang). Asumsi 2 liter/orang/hari. 
  2. Auto Shut Off Menghentikan aliran air ketika lampu UV atau komponen penting lain dalam Pureit Marvella tidak berfungsi. 
  3. Kapasitas Penampungan 4 Liter 4 liter air minum tersedia dan bisa dimanfaatkan bahkan di saat tidak ada listrik. 
  4. Pengisian Air Otomatis Nyaman tidak perlu melakukan pengisian manual. 
  5. Pemurnian Dengan Standarisasi US EPA Memunuhi kriteria yang sangat ketat dari EPA (Environmental Protection Agency), Amerika Serikat dalam hal pembasmian virus, parasit dan bakteri yang berbahaya. 
Catatan untuk diperhatikan : 
   Pureit telah didisain secara khusus agar aman dari kuman yang berbahaya”, selama Pureit digunakan dengan baik sesuai panduan penggunaannya, yaitu : 
  1. Pastikan wadah Transparan dan keran Pureit berada pada tempat yang bersih dan higienis, dan tidak terkontaminasi melalui kontak tangan, lap pengering, pencucian dan lain-lain. 
  2. Pilihlah tempat di tempat yang bersih, kering, bersuhu ruangan, dan tidak terkena sinar matahari langsung sebagai tempat ideal untuk meletakkan pureit. 
  3. Untuk Pureit Marvella pengoperasiannya menggunakan listrik dan akan disambungkan ke keran air. Pengisiannya secara otomatis. 
Pureit didukung oleh layanan purna jual : 
1. Gratis biaya pemasangan Pureit Marvella dan sebelum dipasang sumber air akan dicek terlebih dahulu oleh teknisinya. 
2. Garansi 1 tahun untuk kerusakan pabrik 
Untuk Informasi lebih detail hubungi : 
Suara Konsumen Pureit (kode area lokal) 500 258 (pulsa lokal). Email : pureit.indonesia@unilever.com 

Jika Aku Tidak Pernah Sakit GERD

   Terkadang rancangan Tuhan tidak bisa kita mengerti dan saat itu terjadi kita bahkan bisa saja menyalahkan Tuhan atas apa yang menimpa kita. Tetapi kemudian setelah kita melewati masa masa itu kita baru mengerti oh ini to maksudMu Tuhan. Kita baru bisa bersyukur setelah terjadi kekecewaan yang mendalam akan sesuatu. 

   Aku pernah mengalami masa itu dan kurasa demikian juga dengan saudara sekalian. Awalnya aku sangat menikmati pekerjaanku hingga GERD merenggut semuanya itu. Aku diPHK karena sering bolos kerja akibat sakit GERD yang tak kunjung sembuh, aku kehilangan masa remajaku, masa dimana lagi asyik-asyiknya jalan-jalan keluar kota bersama teman-temanku, menikmati segala macam makanan tanpa efek mual maupun muntah, bahkan waktu itu aku kehilangan teman-temanku. 

   Kurasakan kesendirian yang amat sangat mendalam ketika aku harus diopname di rumah sakit tanpa ada yang menungguiku. Saat aku sendiri, beberapa kali perawat mengingatkanku akan pelunasan biaya administrasi rumah sakit dan itu cukup membuatku cemas. Mereka menanyakan tentang dimana keluargaku. Saat itu juga aku merasa pentingnya sebuah keluarga. 

   Tadinya aku memang sengaja tidak memberitahukan kepada bapakku yang masih di Blora agar beliau tak usah menjenggukku. Aku tak tega karena beliau sudah lanjut usia, aku tak ingin merepotkan. Sedangkan waktu itu adikku belum tiba di rumah sakit. Sempat terpikir olehku betapa nyamannya apabila setiap orang sakit yang sedang sakit bisa istirahat dengan tenang di sana tanpa ada rasa cemas tidak bisa bayar biaya administrasi rumah sakit (Beruntung ya sekarang sudah ada BPJS.) 

   Waktu itu plafon berobat gratis dari kantor pun sudah habis karena aku sering keluar masuk rumah sakit karena GERD. Mungkin teman-temanku sudah bosan menjenggukku, entah kenapa saat mereka menjenggukku dulu aku tampak sehat sedangkan aku kumat lagi (muntah asam lambung) ketika tidak ada orang yang menjengukku. Entah kenapa aku harus muntah hanya dijam jam tertentu saja sehingga tidak ada bukti kalau aku benar-benar sakit. Hanya orang yang menunggu pasien yang lain saja yang tahu kalau aku kumat. Hal itu membuat teman-teman di kantorku mengira aku pura pura sakit. Mereka semua menyindirku, “Wah enak ya liburan di hotel.” Aku maklum karena mereka tidak tahu yang sebenarnya. 

   Pernah suatu kali pada jam 2 siang, aku muntah di kamar mandi selama berjam-jam dan infusku sudah mulai habis. Darah sudah mengalir balik ke tabung infusnya, aku terpaksa hentikan muntahku dan mencoba keluar dari toilet dan mencari perawat. Aku benar-benar merasa sendiri. Aku mengerti apa itu kesendirian. Meskipun aku sendiri, namun aku tahu Tuhan tidak membiarkanku sendiri. 

   Akhirnya, Ia mengirimkan seorang sahabat untuk merawatku selama opname sampai adikku datang. Mereka berdua tidak selalu bisa menemaniku karena harus bekerja juga. Seminggu aku dirawat di rumah sakit dan aku cukup paham dengan arti sendiri. Hingga saat aku keluar dari pekerjaanku dan harus pulang ke kampung halamanku aku benar-benar merasa sedih. Aku kehilangan semuanya, uang pesangon yang seharusnya aku dapatkan habis ludes untuk melunasi hutangku selama di rumah sakit. Tapi Tuhan sekali lagi tidak membiarkanku hidup dalam kekurangan. Dia memberi berkat secara tak terduga dan jumlahnya sama dengan uang pesangonku. Bahkan aku pulang ke blora dengan naik taksi dibayari dan diantar sahabatku. 

   Sampai di Blora pun aku benar-benar belum tahu apa rencana Tuhan atas hidupku. Masih dalam keadaan sakit dan terkapar di tempat tidur dengan badan yang sangat kurus (30kg) tadinya BBku 35kg. GERD telah membuat BB ku turun drastis. Yang kulakukan setiap hari saat tidak kumat adalah mendengarkan khotbah Pdt. Gilbert Lumoindong di radio rohani setiap jam 6 pagi. Aku mencatat setiap kotbahnya. Aku membaca Alkitab setiap hari hingga Tuhan membuka jalan kesembuhan kepadaku. Tak hanya doa, tapi aku sangat ketat jaga makananku. Uang berkat itu akhirnya habis untuk berobat lagi dan aku pun sembuh. 

   Jika aku tak pernah sakit GERD mungkin aku sampai hari ini tidak mau belajar memasak makananku sendiri, aku dulu sangat suka makan mie instan, daging, dan ayam aku tak suka sayuran. 

    Jika aku tak pernah sakit GERD aku tak mungkin menulis di surat kabar, meski hanya surat pembaca.

     Jika aku tak pernah sakit GERD aku takkan pernah kenal dengan sahabatku ini.

   Jika aku tak pernah sakit GERD mungkin aku tidak pernah memperhatikan apa yang kumakan, aku hanya mau makan yang enak-enak saja tanpa memperdulikan sehat tidaknya makanan itu. 

   Jika aku tak pernah sakit GERD aku tak kan jadi orang yang lebih perhatian pada orang lain. Aku tak pernah mau memahami orang lain, aku sangat egois. 

   Jika aku tak pernah sakit GERD aku tak kan tahu rasanya sendirian itu menyiksa. Aku mungkin kehilangan semua yang kumiliki tapi aku mendapat sesuatu yang baru, apakah itu? Ya sebuah pekerjaan yang bisa kulakukan secara fleksibel di rumah. Meski di rumah tapi aku bisa tetap menghasilkan uang dengan apa yang bisa kulakukan. 

   Jika aku tak pernah sakit GERD aku tak akan pulang ke Blora dan tidak tahu kalau bapakku kena TB dan harus dirawat secara rutin. 

   Dan yang terutama dari semua itu, Jika aku tak pernah sakit GERD aku tak akan menjadi seorang desainer blog. 

    GERD telah membuatku belajar banyak hal baru yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. GERD membuatku bertemu teman-teman senasib dan sepenanggungan yang sama-sama kena GERD sehingga aku merasa tidak sendiri lagi dengan penyakit yang terbilang aneh ini. Melalui forum yang kuikuti forum GIHM Indonesia, aku bertemu seseorang yang mengantarkanku menekuni dunia kepenulisan.

Cara Mengobati Radang Tenggorokan

   Ketika mengantar bapak berobat ke Semarang, aku sempat tinggal seminggu di sana sampai waktunya kontrol dokter lagi. Cukup boros juga karena aku makannya serba beli di warung. Dan karena aku penyuka gorengan hampir tiap aku makan pasti lauknya gorengan dan minumnya air es. Wah, langsung deh malamnya aku kena radang tenggorokan. 

   Malam itu tenggorokanku rasanya sakit buat menelan dan badanku udah mulai demam. Aku cuma mikir pengen cepet pulang ke Blora dan langsung ke puskesmas. Bayanganku pasti bakal minum antibiotik lagi. Gimana ya, aku disini kan dalam rangka nganter bapakku berobat masa aku sakit juga? 

    Aku ambil minyak kayu putih dan kerokin leherku sendiri terus di pagi harinya waktu bangun tidur aku berkumur air hangat dicampur sedikit garam. Wah daya tahan tubuhku menurun nih, aku musti makan dan minum yang banyak. Dalam keadaan demam aku keluar ke Indomaret buat beli larutan penyegar habis 2 botol. 

   Rupanya radang tenggorokanku udah mulai sembuh hingga aku pulang ke Blora. Ga jadi ke puskesmas deh. Jadi kalau sudah mulai kena flu/ radang tenggorokan sebaiknya makan, minum dan istirahat yang cukup saja sudah ampuh buat atasi radang sejak dini.

Bakso Cinta

   Ini sama sekali bukan judul yang menggembirakan. Kalau inget kejadian ini sebenarnya agak merasa gimana gitu. 


   Jadi ceritanya aku tuh punya teman sekolah sebut saja namanya Maya (bkn nama sebernarnya). Si Maya ini punya pacar namanya Adi. Mereka pacaran sejak masuk SMP. Pas aku main ke rumah Maya dia mintol (minta tolong) padaku buat ngerjain cowoknya lewat telepon. Dia pengen ngetes kesetiaan cinta Adi padanya. Jaman dulu pas belum punya HP pakainya telepon koin di Telkom. Aku dan Maya naik sepeda ke kantor Telkom. 

   Entah kenapa aku mau aja dimintai tolong sama Maya. Ya waktu itu aku mikirnya buat temen kenapa enggak. Aku juga penasaran juga seberapa dalamnya si cinta Adi buat Maya. Mulai deh, aku ngerjain si Adi ini. Dengan pura-pura ngajak kenalan + godain si Adi. Eh ternyata jauh dari dugaanku ternyata si Adi ini tipe cowok setia. Dia marah waktu aku telepon mungkin dia ga sembarangan mau kenalan sama orang asing. 

   Udah kenyang dimaki maki sama si Adi ini perasaanku jadi ga enak. Eh si Maya malah tertawa terbahak-bahak. Mungkin dia udah puas kali ya karena udah yakin si Adi ini setia banget sama dia. Dan untuk mengobati rasa beteku habis kena semprot Adi, si Maya nraktir aku bakso. 

   Konyol banget deh aku waktu itu demi semangkuk bakso rela dimaki maki cowok. Sampai sekarang kalau lihat bakso jadi inget deritaku dimaki-maki cowok. Tapi setidaknya aku cukup salut sama kisah cinta dan kesetiaan Adi dan Maya ini. Sekarang mereka sudah menikah dan mempunyai 2 anak perempuan sedangkan mak comblangnya tetep aja masih dalam pencarian jati diri sambil mikir, “Aku ini tulang rusuknya siapa ya? Kok ga ada yang nyari… ?”:O

Me and My Father

   Hai, hari ini aku pengen upload foto-fotoku bersama bapakku. He is so special for me. Oleh sebab itu aku sering nulis tentang bapakku di blog ini :) 

   Tinggal bersama orangtua tunggal yang sudah lansia membuatku belajar menjadi lebih perhatian. Sudah seperti punya baby. Memperhatikan makannya, minum obatnya, dan perubahan emosinya. After all, aku sangat bangga dan bersyukur punya bapak seperti beliau.
dalam perjalanan berobat keluar kota naik travel
waktu antri dokter di rumah sakit dari jam 8 pagi-5 sore

waktu duduk di emper toko orang pas capek jalan-jalan di Semarang

waktu nunggu bapakku antri rontgen di RS

waktu nemeni bapakku opname di RS luar kota

 

KasihNya Cukup Buatku So Special

   
Inga' inga' jangan minder! Sekalipun ga ada yang sayang setidaknya pandaku & Tuhan sayang padaku :P

   
    Aku paling doyan kalau disuruh foto selfie atau narsis terus diupload di facebook, meski mukaku bukan kriteria foto model. Dengan seringnya foto selfie itu adalah wujud rasa syukurku kepada Tuhan karena sudah diberikan wajah seperti ini. 

   Menurutku tiap orang diciptakan Tuhan dengan tujuan yang berbeda tapi tetep dengan maksud yang baik. Sejelek-jeleknya muka orang kalau dia tersenyum akan tampak cakep di kamera. Kecuali kalau gambarnya ngeblur akibat ga pake tongsis motretnya hahahaha. 

   Dengan kamera hp satu-satunya yang kupunya berukuran gambar maksimal 640x480 px, tapi lumayanlah buat bernarsis ria. Inget ya NARSIS bukan RASIS! Jangan salah ketik hurufnya ntar berabe…hehe. 

   Aku ga pernah protes sama Tuhan dikasih muka model begini karena KasihNYA cukup buatku jadi so special. Aku sangat menentang rasa minder karena minder itu ga bagus buat dipiara. Pede Aja lagi! Karena yang pasti I am special and so you are. 


Photo ini diikutsertakan dalam 

Komik MTGW

Iseng-iseng bikin komik tentang Mario Teguh Golden Ways. diposting di blog aja ya hihi..: 




Peran Blogger Atasi Stigma Negatif dan Diskriminasi Pasien TB

   Terkadang saat kita diberi kesehatan dan melihat ada seseorang yang sakit apalagi tidak sembuh-sembuh membuat kita memiliki stigma negatif pada orang tersebut. Kadang kita juga berpikir “Sakit kok aneh gitu sih? Kayak diguna-guna/ disantet, dll” 


    Kita jadi takut mendekat atau bergaul dengan orang itu karena takut ketularan penyakitnya. 

   Munculnya stigma/ pandangan dan pemahaman yang salah kaprah terhadap sesuatu hal akan membuat penderita merasa terdiskriminasi. Demikian juga stigma negatif terhadap pasien TB, diantaranya yaitu : 

1. Ada yang bilang TB itu penyakit keturunan. Benarkah itu? Hanya karena jika dalam satu keluarga kena TB semua lalu dibilang TB penyakit keturunan? Itu tidak benar. Logikanya seperti ini: TB itu kan memang bisa menular, apalagi penularannya cepet banget yaitu melalui udara, bersin, dahak penderita yang terpercik saat ia batuk. 

   Nah, kuman TB itu dihirup oleh orang terdekat dengan penderita. Sedangkan hubungan yang terdekat kan di rumah/ dalam satu keluarga. Jadi wajar apabila dalam satu keluarga mudah ketularan TB. 

   Solusinya, anggota keluarga yang masih sehat harus tetap menjaga kesehatannya dengan makan makanan yang bergizi agar daya tahan tubuhnya kuat. Selain itu wajib menjaga kebersihan lingkungan rumah dengan memiliki ventilasi udara ruangan yang baik. 

   Sedangkan untuk penderitanya agar memakai masker atau menutup mulut saat batuk, membuang dahak pada tempat yang tepat, dan minum obat secara rutin dan tuntas agar cepat sembuh. Kesabaran dan kemauan yang kuat serta dorongan dari keluarga akan mempercepat proses penyembuhan. 

2. TB itu penyakit karena diguna-guna atau kutukan? Oh tentu tidak! 

   Kok bisa sih orang mikir TB itu karena kena guna-guna atau dikutuk? Ya, mungkin mereka berpikir begitu karena kadang kan pasien TB sering batuk-batuk dan muntah darah tiba-tiba sehingga penderitanya akan dikucilkan/ didiskriminasi karena dikira pernah melakukan kesalahan di masa lalu yang menyimpang. 

   Logikanya : batuk darah yang dialami penderita TB itu karena pembuluh darah dalam paru-parunya itu pecah akibat infeksi kuman TB saat dia batuk. 

   Kembali lagi solusinya adalah minum OAT secara rutin dan tuntas agar cepat sembuh. 

3. TB tidak bisa disembuhkan? Siapa bilang? 
 
   Memang, TB merupakan penyakit pembunuh nomor 1 diantara penyakit menular lainnya karena pasien TB yang tidak segera terdeteksi dan mendapat pelayanan kesehatan yang tepat serta tuntas bisa meninggal dunia. 

   Sebaliknya, jika pasien TB segera memeriksakan diri ke dokter dan mau minum obat dengan rutin dan tuntas pasti bisa sembuh. Hanya butuh waktu 6 bulan saja buat rajin minum obat. 

   So, yang sabar ya bagi penderita TB. Soalnya kalau tidak rutin minum obat akan menjadi kebal obat atau istilah medisnya MDR TB (multidrug resistance tuberculosis) yang mana butuh waktu lebih lama lagi (sekitar 2 tahun) untuk proses penyembuhannya. Bukti nyata TB bisa disembuhkan bisa dilihat di video berikut ini :


   Sebagai blogger, sangatlah tepat apabila kita menuliskan banyak konten tentang TB untuk mengedukasi khalayak yang belum paham benar tentang TB. Sehingga akan meminimalisir stigma negatif dan diskriminasi tentang pasien TB itu sendiri. 

   Jika orang sudah paham tentang TB, penyebab, dampak, dan cara menyembuhkannya tentu tak ada lagi stigma negatif dan diskriminasi yang merajalela di muka bumi ini disamping itu motivasi kepada para penderita TB akan membuat mereka lekas sembuh dan hal itu tentu saja berdampak positif dengan berkurangnya angka kematian akibat TB. 

   Yuk guys, jangan kucilkan lagi pasien TB sebaliknya rangkul dan beri motivasi agar mereka lekas sembuh dengan membaca artikel yang kita tulis. Oya, bagi teman-teman yang belum membaca serial 1-7 di postingan saya bisa membacanya disini :







Seri 7 : Masyarakat Peduli TB

Sumber referensi: 
http://www.tbindonesia.or.id/ 
http://www.lkc.or.id/ 

Cara Membayar Iuran BPJS lewat ATM BRI

   Hari ini rencananya aku mau bayar iuran BPJS ke Bank. Tadinya aku nggak tahu kalau ternyata iuran BPJS bisa dibayarkan lewat ATM. Udah ngisi slip setoran + antri lama di bank, eh ternyata kata mbak kasirnya disuruh nunggu lagi karena bukanya aplikasinya lama lewat komputer. So, akhirnya aku disuruh bayar lewat ATM aja dibantu pak security. 
Begini caranya : 
  1. Masukan kartu ATM BRI 
  2. Ketik nomor PIN Anda 
  3. Pilih TRANSAKSI LAIN 
  4. Pilih PEMBAYARAN 
  5. Pilih LAINNYA 
  6. Pilih BRIVA 
  7. Pilih BPJS KESEHATAN 
  8. Ketik nomor virtual account Anda 
  9. Ketik nominal premi/ iuran Anda sesuai kelas. Kelas 1: Rp.59.500,- Kelas 2 : Rp. 42.500,-Kelas 3 : Rp. 25.500,- 
  10. Ambil kartu ATM anda kembali beserta slip bukti pembayaran briva. 
mudah sekali kan? cepet pula ga perlu antri lama di bank... :D. Oya, bayar iuran BPJS nya jangan lebih dari tanggal 10 tiap bulannya biar ga kena denda.

Hasil CT Scan Bapakku

   Hari yang dinantikan tiba, Aku sengaja mandi lebih pagi agar bisa bersiap untuk mengantar bapakku ke ruang CT Scan. Rencana CT Scan jam 7/ 8 tapi perawat baru menjemput jam 09.30 WIB mungkin masih antri. Bapakku berbaring di tempat tidurnya sambil didorong masuk ke lift untuk naik ke lantai 3. Aku dan adikku mengikuti dari belakang. Baru kali ini aku tahu kalau CT scan itu ternyata memakan waktu sejam. 

   Siang harinya bapak diperbolehkan pulang. Hasil lab baru akan keluar keesokan harinya. Jadi hari itu kami berkemas dan pulang ke kos adikku. Besok aku harus mengambil hasilnya di ruang perawatan. Karena jadwal kontrol dokter 5 hari lagi jadi kami memutuskan untuk tinggal lebih lama di Semarang dulu daripada bolak balik Blora. Setelah menyelesaikan administrasi kami menuju ke kos adikku. Dengar-dengar biaya CT scan berkisar 3.5 jeti. Tapi oleh kemurahan Tuhan, it’s free for us. 

   Kami dijemput adikku dan temannya naik brompit lagi. Hari itu di kos an adikku aku berkenalan dengan teman-temannya. Di lantai 3 ada 3 orang cowok, di lantai 2 juga ada 3 cowok. Jadi selama 5 hari itu aku tinggal bersama 6 orang cowok di kos an adikku. Keesokan harinya aku diantar adikku mengambil hasil CT Scan dan lab. Dan inilah hasilnya : 

Pemeriksaan Hematologi Gol. Darah A Rhesus (+)

Kimia klinik : 
Ureum 18.5 mg/ dL (15.0 – 38.5) 
Kreatinin 0.8 mg/dL (0.8-1.3) 

Pemeriksaan Patologi Anatomi 
Makroskopik :
Diterima sediaan hapus FNA 4 slide 

Mikroskopik : 
Sediaan dari FNA transthoracal, berupa 4 slide preparat hapus: 
Sebaran difus eritrosit, sebaran moderat lekosit pmn 
Didapatkan kelompok-kelompok jaringan nekrotik 
Bersebukan sel radang limfosit dan lekosit pmn 
Tak didapatkan sel ganas pada sediaan ini 

Kesimpulan FNA Transthoracal : Radang non spesifik 

Pemeriksaan mikrobiologi, pengecatan Ziehl Nielsen Sample FNA BTA (-) negative 

Pemeriksaan CT scan Thorax dengan kontras multiplanar :
Mediastinum cenderung tertarik ke kiri 
Jantung dan pembuluh darah besar 
Atrium kanan, atrium kiri, ventrikel kanan normal, ventrikel kiri tak membesar 
Septum interventrikel tak menebal 
Myocard tak menebal 
Setinggi trunkus pulmonal 
kaliber aorta ascenden, aorta descenden, trunkus pulmonal dan vena cava superior normal, 
descenden ascenden ratio normal 
Tak tampak pembesaran KGB 
Tak tampak efusi pericard 
Tak tampak massa mediastinal 
Kedudukan trachea normal, lumen tak tampak menyempit, tak tampak penebalan dinding 

Paru: 
Tampak volume loss paru kiri dengan infiltrate pada apeks dan basal paru disertai kalsifikasi 
Tampak infiltrate prominent apeks paru kanan serta infiltrate tersebar 
Bronkus utama kanan kiri tak menyempit, tampak pelebaran focal cabang-cabang bronkus kanan kiri 
Tak tampak massa paru 
Pleura basal kiri tampak menebal dengan collecting fluid 
Tak tampak destruksi tulang 

Kesan : 
Cenderung KP lama dengan infeksi sekunder disertai bronchiectasis dan pleuritis basal hemithorax kiri. 

   Selasa berikutnya 2 Juli, 2014 kami kembali mengantri dokter dari jam 8 pagi sampai 5 sore, untuk mendapat jawaban dokter. Kata dokter bapakku memang pernah kena flek paru tapi itu sudah sembuh, hanya saja bekas fleknya menimbulkan kerusakan paru yang sulit disembuhkan. 

   Dokter memberi bapakku obat hisap namanya Seretide DIskus Salmetrol xinafoate fluticasone propionate . Alat ini berisi tepung (serbuk warna putih) cara memakainya ditempelkan di mulut dan hisap/ tarik nafas tahan selama 5 detik dan hembuskan pelan-pelan. Rasanya manis dan 1 wadah berisi 60 obat. Sekali dibuka nomernya akan berkurang 1. Sehari 2x pagi dan sore. Harga obat ini Rp. 184.999,- 

   Selain itu bapak juga diberi kapsul berisi aminophyllin 200 mg dan salbutamol 4 mg yang terdapat dalam 1 kapsul. Hanya untuk 20 hari saja. Harus diminum rutin.

   Kebayang aku harus bolak balik Blora - Semarang selama 6 bulan untuk obat ini jika di blora tak ada obat ini. Memperhatikan jadwal minum obat bapakku memang sangat menantang buatku. Tak hanya itu saja, aku juga harus mengatur waktu dan mengurus surat tepat waktu agar tidak blong obatnya. Hmm… benar-benar butuh perhatian ekstra...

Perjalanan Berobat ke Semarang

   Setelah semua surat-surat untuk keperluan berobat keluar kota kulengkapi, aku dan bapak berangkat ke Semarang pada Selasa minggu lalu. Kali ini kami tidak diantar paman lagi melainkan naik travel. Saat akan berangkat hatiku bergejolak rasanya capek tak ingin pergi keluar kota lagi tapi aku harus kuat demi bapakku. Di saat seperti itu Tuhan pun tahu, Dia menghibur hatiku. Surprised banget karena diluar dugaanku travel yang kutumpangi beda banget, bagus bak mobil pribadi. Hanya ada 5 orang penumpang disana. Dan yang membuatku semangat pergi karena ternyata sopirnya ganteng banget. Sungguh berbeda saat aku ke Solo minggu lalunya lagi, yang mana aku tepar dan muntah terus di mobil. 

   Meski terjadi kemacetan di dua titik dan mengakibatkan perjalanan Blora-Semarang yang seharusnya hanya 3-4 jam jadi 7 jam tapi aku sangat menikmatinya. Rupanya ini penghiburan dari Tuhan. Hati yang gembira bukan hanya menjadi obat yang manjur tetapi juga jadi anti mabok darat. 

   Kami berangkat jam 1 siang dan sampai Semarang jam 8 malam menuju kos an adikku. Kami tinggal di lantai 3 kamar teman adikku. Setelah melepas lelah, adikku mengajakku membeli makan di café langganannya. Disana aku bertemu dengan 3 orang teman adikku dan kami berkenalan. Aku tak makan disana karena ada bapak yang menunggu di kos. Jadi aku bungkus makanan itu agar bisa makan bersama bapakku. Setelah kenyang, kami pun beristirahat. 

   Keesokan harinya pagi-pagi kami harus ke rumah sakit untuk mendaftarkan bapak ke instalasi rawat jalan. Setelah surat-surat seperti fotokopi rujukan (dokter keluarga/puskesmas, RSU setempat, dan fotokopi kartu BPJS) kuserahkan ke petugasnya, aku mengambil nomor antrian dan mendaftar ke dokter spesialis. Menurut info dari rumah sakit, dokter hanya membatasi 3 orang saja yang bisa berobat gratis. 

   Sampai di rumah sakit jam 8 pagi hari itu sangat sepi. Sepertinya Tuhan memperlancar semuanya. Aku mendapatkan nomor urutan 1 yang mendapat gretongan berobat. Sedangkan periksa dokternya jam 5 sore. Karena jarak kos adikku ke rumah sakit cukup jauh, jadi kami memutuskan untuk menunggu dokternya di rumah sakit. Bisa dibayangkan dari jam 8 pagi sampai jam 5 nongkrong di rumah sakit. Demi pengiritan ongkos transport karena naik taxi kena Rp.21.000 sekali jalan. Untungnya waktu itu kami diantar adikku dan temannya naik brompit. Antri dokter ini harus ontime kalau ga bisa disuruh mundur 3 nomer, kan eman? 

   Demi tidak disuruh mundur, aku menahan kencing dan lapar. Waktu terasa lama sekali, dokter baru datang pada pukul 17.30. Setelah itu kami masuk dan dokter memeriksa bapakku. Malam itu juga dokter langsung suruh bapak opname untuk keperluan diagnosa cepat yang tidak bisa ditunda lagi. Rasa laparku tiba-tiba hilang ganti lemas, pusing, dan mual. Aku harus segera mengambil obat dan infus ke apotik dan mengurus pesan kamar. Antri obat juga lama, kepalaku makin pusing. 

   Setelah menunggu beberapa saat, obat dan infuse di tanganku dan kami memutuskan untuk makan malam dulu sebelum pesan kamar. Bapakku sering bingung menentukan menu makan kalau sudah masuk ke warung. Dia memperhatikan tulisan menu di layar penutup warung itu mau makan apa? 

   Kami sempat mendesak bapak untuk segera pesan makanan karena sudah lapar. Saat kami beradu pendapat, rupanya ada sepasang suami istri yang juga makan disana yang memperhatikan kami. Selesai makan, kami berbicang sebentar dan saat mereka hendak pulang, sang suami membayar semua makanan kami. Oh puji Tuhan, padahal kami tak kenal satu sama lain. Entah apa yang membuatnya menraktir kami waktu itu. 


   Usai makan, aku dan adikku menuju ke bagian administrasi untuk memesan kamar. Kelas 3 semalam bayar Rp. 132.000, biaya dokter Rp.72.000, kalau ruang isolasi kena 303.000 semalam. Aku sempat cemas dan takut kalau bapakku dimasukkan ke ruang isolasi karena penyakitnya bagian paru-paru dan pernah berobat TB. Tuhan kembali memperhatikan kami. Aku mendengar perbincangan pasien yang sulit mendapat kamar, membuatku makin takut. 

   Petugas administrasi meminta surat-surat rujukan, KTP asli dan kartu BPJS bapak. Dalam hati aku terus berdoa, supaya dapat kamar kelas 3. Kulihat petugasnya sangat sibuk di dalam memeriksa berkas-berkas pasien. Beberapa saat kemudian, salah satu petugasnya memberitahukan bahwa bapakku mendapat kamar kelas 3. Oh puji Tuhan, aku senang sekali. 

   Segera kuhampiri bapakku dan ada petugas yang membawa kursi roda untuk mengantar bapak ke kamarnya.meski kamar itu kelas 3 tapi sangat bersih dan bagus, bapakku mengira itu kelas 1. Rumah sakit ini memang sangat terkenal karena kebersihannya. Di kamar itu ada 6 bed, 1 TV LCD dan kamar mandi. Aku berulangkali dipanggil untuk tanda tangan berkas-berkas keperluan rawat inap. Pasang infuse juga dimintai tanda tangan, setelah mendengarkan informasi dari perawat aku juga harus tanda tangan. Adikku kembali ke kosnya dan membawakan kami baju-baju untuk tinggal di rumah sakit 2 hari. Dokter yang memeriksa kami akan tiba besok pagi untuk memeriksa bapakku. CT Scan dijadwalkan hari Kamis pagi.

SKS (Sistem Kebut Semalam)

   Setiap aku berhasil menjadi juara kelas entah itu juara satu, dua, atau tiga, biasanya orangtuaku menraktirku makan rawon di restoran sebagai hadiah atas keberhasilanku. Bagi orang lain, mungkin hadiah itu terlalu sederhana, tetapi bagiku bisa makan rawon di restoran karena berhasil menjadi juara kelas itu adalah hal yang luar biasa. Maklum, keluarga kami hidup pas-pasan jadi hanya pada momen tertentu saja kami bisa makan di luar. 

    Sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Dasar pun, aku jarang membawa uang saku dari rumah. Bukan karena ibuku tidak pernah memberiku uang saku, melainkan karena bagiku jika sudah cukup kenyang makan dirumah maka tidak perlu membeli jajan di luar lagi. Sebetulnya, Ibu pernah memberiku uang saku namun kukembalikan lagi sewaktu pulang sekolah karena perutku masih kenyang. 

   Setiap pulang sekolah, ibu selalu memeriksa buku pelajaranku. Beliau selalu mengingatkanku untuk segera mengerjakan PR setiap mendapat tugas dari sekolah dan tidak boleh menunda-nunda dalam mengerjakannya agar tidak lupa. 

   Kebiasaan ini diterapkan oleh kedua orangtuaku sejak aku masih kecil. Karena sudah dibiasakan demikian, setiap ada tugas, otomatis aku kerjakan tanpa menunggu komando. Kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Setiap mendapat tugas, aku selalu menyelesaikannya tepat waktu. 

    Ketika akan ada ulangan di sekolah, aku menerapkan SKS (Sistem Kebut Semalam). Hehe…, kalau yang ini jangan dicontoh ya. Tetapi meski demikian untungnya nilai ulanganku lumayan juga. 

   Selama bersekolah di Sekolah Dasar hingga SMP kelas 1 memang aku tidak pernah menyontek karena kata guruku, menyontek itu sama artinya dengan mematikan pikiran kita. Tak pernah terbesit di benakku untuk menyontek. Tetapi entah mengapa, ketika aku duduk di bangku SMP kelas 2 mulai ada rasa penasaran ingin ikut-ikutan teman menyontek. 

   Waktu itu akan dilaksanakan ujian caturwulan pertama di kelas 2 SMP. Aku juga menerapkan SKS tetapi bukan SKS untuk belajar, melainkan SKS menulis contekan di kertas. Maklum baru pertama kali menyontek dan kurang berpengalaman jadi kutulis saja contekanku itu di buku kosong. Padahal pada umumnya, kalau membuat kertas contekan biasanya di kertas kecil-kecil. 

   Hari pertama ujian, aku berhasil menyontek dan tidak ketahuan guru pengawas. Oleh karena itu keesokan harinya aku mencoba menyontek lagi. Namun, ketika aku hendak mengerjakan soal nomor 1, aku sudah mulai membuka contekan, padahal sebenarnya tanpa menyontek pun aku bisa mengerjakannya. 

   Sebelum membuka buku contekan, aku memperhatikan sekelilingku. Kulihat guru pengawasnya tidak terlalu memperhatikan murid-murid yang lain. Seketika itu juga aku mulai beraksi, kuambil buku contekan yang kusembunyikan di laci meja. 

   “Srek….” 

   Ketika mendengar suara lembaran buku contekan yang kubuka, guru pengawas itu mengalihkan perhatiannya dan memandang ke arahku. “Wah, gawat ketahuan nih!” gumamku penuh ketakutan. 

   Guru pengawas itu dengan tenang menghampiriku dan mengambil buku contekan beserta kertas ujianku. Ia mencatat nomor urut ujianku. Ketika semua mata memandang ke arahku, perasaanku mulai diliputi ketakutan yang amat sangat. 

    Hanya rasa sesal bercampur malu yang tersisa saat itu. Yang lebih mengecewakan lagi saat itu ujian agama. Entah mengapa ujian agama bisa-bisanya aku menyontek dan ketahuan. Jumlah soal ujian agama itu ada 40 soal, tapi akhirnya tidak bisa kukerjakan semua karena baru nomor 1 sudah ketahuan guru pengawas kalau aku menyontek. 

    Perasaan bersalah itu terus menghantuiku. Tubuhku melemas dan pikiranku kacau. Aku sangat ketakutan jika aku akan dihukum. Hari itu bertepatan dengan pergantian kepala sekolah yang baru. Aku takut dipanggil ke kantor kepala sekolah gara-gara menyontek. Hingga aku berpikir yang tidak-tidak secara berlebihan, misalnya dikeluarkan dari sekolah. 

   *** 

   Keesokan harinya aku tidak berani menyontek lagi. Apa yang kutakutkan juga tidak terjadi. Hingga selesai hari terakhir ujian caturwulan pertama, aku kembali belajar seperti biasa. 

   Hanya saja ketika ada pelajaran agama, aku sangat takut ketika bertemu dengan guru agama di sekolahku. Beliau memang tidak terang-terangan menegurku atas ulahku kemarin. Namun, aku tahu bahwa beliau sedang menyindirku dan aku menerima semua itu karena memang aku yang bersalah. 

   Memang berbeda rasanya jika mengerjakan soal ujian antara belajar atau dengan menyontek. Ada kepuasan tersendiri ketika aku mengerjakan soal ujian dengan belajar, meskipun nilai yang kudapat kurang bagus. Namun, jika menyontek meski hasilnya bagus, yang ada hanya rasa tidak puas dan takut apalagi jika ketahuan seperti pengalamanku waktu itu. 

    Sejak peristiwa itu hingga aku lulus SMU, aku tak pernah lagi menyontek maupun berpikir untuk melakukannya lagi. Aku lebih merasa bersalah kepada diri sendiri dan terutama kepada Tuhan karena tidak menggunakan akal pikiranku untuk berpikir sebelum bertindak. Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah kulakukan waktu itu.